TIMES GORONTALO, JAKARTA – Makanan dan minuman panas berpotensi melepaskan mikroplastik dalam jumlah jauh lebih besar dari wadah plastik, demikian temuan terbaru dari tinjauan sejumlah studi ilmiah. Para peneliti juga menemukan bahwa kopi panas yang disajikan dalam gelas plastik dapat melepaskan puluhan ribu partikel mikroplastik lebih banyak dibanding kopi dingin.
Temuan ini memperkuat kekhawatiran ilmuwan terkait paparan mikroplastik yang dikonsumsi manusia setiap hari. Sejumlah penelitian sebelumnya mengaitkan konsumsi mikroplastik dengan berbagai risiko kesehatan, mulai dari gangguan hormon, diabetes, masalah pernapasan dan reproduksi, hingga peningkatan risiko beberapa jenis kanker.
Mikroplastik yang tidak sengaja tertelan manusia berukuran sangat kecil, mulai dari sepersejuta meter hingga lima milimeter. Partikel ini banyak berasal dari penggunaan wadah dan gelas plastik sekali pakai yang masih masif di berbagai belahan dunia. Diperkirakan sekitar 500 miliar gelas plastik sekali pakai digunakan setiap tahun secara global.
Meski demikian, peran jenis bahan plastik, suhu makanan atau minuman, serta lamanya kontak antara cairan dan wadah terhadap pelepasan mikroplastik selama ini belum sepenuhnya dipahami.
Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Journal of Hazardous Materials: Plastics, para peneliti menganalisis 30 studi sebelumnya, serta melakukan eksperimen tambahan untuk membandingkan pelepasan mikroplastik dari gelas berbahan polyethylene (PE) dan gelas kertas berlapis PE pada berbagai suhu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah mikroplastik yang dilepaskan dari wadah berbahan PE, polyethylene terephthalate (PET), polypropylene (PP), dan polystyrene (PS) meningkat signifikan seiring kenaikan suhu. Pada makanan atau minuman panas, jumlah mikroplastik yang dilepaskan berkisar dari ratusan hingga lebih dari delapan juta partikel per liter, tergantung jenis bahan dan metode penelitian.
Peneliti juga menguji sekitar 400 gelas kopi dan menemukan bahwa gelas kertas berlapis PE melepaskan mikroplastik lebih sedikit dibanding gelas plastik PE murni, baik pada suhu sekitar 5 derajat Celsius (kopi dingin) maupun 60 derajat Celsius (kopi panas).
“Pelepasan mikroplastik dari gelas PE meningkat sekitar 32,7 persen ketika suhu naik dari 5 derajat menjadi 60 derajat Celsius,” tulis tim peneliti. Peningkatan serupa tidak ditemukan pada gelas kertas berlapis PE.
Penulis studi, Xiangyu Liu, menjelaskan bahwa panas menjadi faktor utama yang mendorong pelepasan mikroplastik. Analisis mikroskopis lanjutan menunjukkan gelas plastik PE memiliki permukaan yang lebih kasar, sehingga lebih mudah melepaskan partikel mikroplastik saat terkena suhu tinggi.
“Ketika suhu cairan di dalam wadah meningkat, pelepasan mikroplastik umumnya ikut meningkat,” tulis Liu. Ia menambahkan, degradasi bahan plastik akibat panas menjadi pemicu utama pelepasan partikel tersebut.
Sebagai ilustrasi, Liu menyebut bahwa seseorang yang setiap hari mengonsumsi sekitar 300 mililiter kopi panas dari gelas berbahan polyethylene berpotensi menelan hingga 363 ribu partikel mikroplastik dalam setahun.
Para peneliti menilai temuan ini dapat memberikan panduan praktis bagi masyarakat untuk mengurangi paparan mikroplastik, sekaligus menjadi dasar bagi upaya regulasi kemasan pangan yang lebih aman di masa depan. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Makanan Panas Picu Pelepasan Mikroplastik dari Wadah Plastik, Ini Temuan Ilmuwan
| Pewarta | : Wahyu Nurdiyanto |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |