TIMES GORONTALO, JAKARTA – Kementerian Pariwisata ingin Provinsi Gorontalo menjadi salah satu destinasi ramah muslim berkelas dunia lewat ajang Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025.
"Ini upaya kami untuk mendongkrak posisi Indonesia pada Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, supaya peringkat bisa naik lagi, kita targetkan kembali ke peringkat pertama," kata Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar Hariyanto dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (26/8/2025).
Dalam kunjungan site visit ke Gorontalo pada Sabtu (23/8/2025), Kementerian Pariwisata melakukan survei untuk melihat secara langsung beberapa pelayanan dan daya tarik, serta untuk mengukur kesiapan Gorontalo dalam memenuhi kriteria destinasi wisata ramah Muslim.
Penilaian dilakukan di sejumlah lokasi seperti Bandara Djalaludin, Danau Perintis, Hotel Aston Gorontalo, Halal Center Kampus IAIN Sultan Amai, Citimall Gorontalo, dan Desa Wisata Bubohu Bongo.
Tujuan utama penilaian adalah meningkatkan pelayanan bagi semua wisatawan, tanpa memandang latar belakang. Layanan akan mengedepankan kebersihan, kenyamanan, dan kemudahan yang dapat dinikmati siapa saja.
Kunjungan itu juga diharapkan bisa memacu Gorontalo untuk meningkatkan lagi aksesibilitas, amenitas, maupun atraksi destinasi wisata guna mendorong daerah mampu memenuhi standar IMTI.
IMTI merupakan indeks pengukuran kesiapan provinsi yang berkorelasi langsung dengan standar GMTI, sebuah acuan peringkat pariwisata ramah muslim global. IMTI tahun ini diselenggarakan dengan kolaborasi antara Kementerian Pariwisata, Bank Indonesia, Crescenrating, dan Tim Enhaii Halal Tourism Center (EHTC).
"Kegiatan IMTI sendiri menjadi acuan GMTI yang otomatis akan menjadi faktor penentu penilaian pada peringkat Indonesia tahun 2026 nanti," ujarnya.
Ia melanjutkan Indonesia secara umum memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pariwisata ramah muslim dunia yang didukung dengan keindahan alam, keragaman budaya, dan populasi muslim terbesar dunia.
Hal ini membuktikan bahwa kemajuan pariwisata ramah muslim di Indonesia menjadi salah satu pilihan dan strategi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Oleh karena itu, penyebaran informasi yang jelas terkait batas antara produk halal dan nonhalal perlu dilaksanakan untuk memberikan pilihan dan kenyamanan pengunjung.
Sementara terkait dengan peringkat di GMTI tahun 2023 dan 2024, Indonesia berhasil menempati peringkat pertama. Namun, peringkat tersebut turun ke posisi kelima pada 2025.
Di mana salah satu penyebabnya adalah absennya Indonesia pada IMTI 2024 yang berpengaruh pada penilaian.
"Skor kita sebenarnya sama, namun yang lain ada update yang terekam dalam penilaian," ujar Hariyanto.
Untuk mendongkrak peringkat tersebut, Hariyanto mengungkapkan IMTI 2025 digelar di 15 provinsi demi mengembalikan predikat Indonesia sebagai wisata ramah muslim nomor satu di dunia.
Adapun provinsi-provinsi yang turut adalah Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kemudian Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan D.I. Yogyakarta.
Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie berharap Gorontalo bisa mendapatkan nilai memuaskan sehingga pada akhirnya kunjungan wisatawan ke Gorontalo meningkat secara kualitas dan kuantitas.
"Kami juga berusaha mendorong UMKM di Gorontalo secara luas agar bisa mendapatkan sertifikat halal, sebagai jaminan kenyamanan wisatawan selama berada di Gorontalo. Dengan branding Serambi Madinah di Sulawesi, kami berharap Gorontalo bisa menjadi tujuan utama wisatawan muslim," ujar Idah. (*)
Pewarta | : Antara |
Editor | : Hendarmono Al Sidarto |